Bahan Bakar Sintetis Porsche Sudah Diuji Coba di Produk Massal

Otoloka.id- Kabar terbaru hadir dari Porsche, pabrikan asal Jerman tersebut telah sukses untuk mengembangkan bahan bakar sintetis, dan sudah diuji coba pada lini produk performa tinggi mereka yang dipakai untuk ajang Porsche Mobil 1 Supercup.

Porsche 911 GT3 Cup yang dijadikan mobil balap, menggunakan bahan bakar sintetis pada musim balap 2021. Bahan bakar tersebut, diuji coba untuk mobil produksi massal Porsche, yang saat ini menggunakan model 718 Cayman GT4 RS di jalanan kota Zell am See, Austria.

Seperti yang dikutip dari carbuzz.com, GT4 RS tersebut menggunakan bahan bakar biofuel yang berasal dari produk sisa makanan, yang diproses menggunakan tenaga listrik oleh tenaga angin dengan metode elektrolisis.

Melalui elektrolisis, komponen air dipecah, lalu diambil hidrogennya untuk diproses dengan Co2 untuk menghasilkan e-metanol. Untuk menjadi bensin sintetis, metanol diproses lagi supaya bisa digunakan untuk mesin pembakaran internal.

Tahun ini, pabrik bahan bakar sintetis yang ada di Chili, diharapkan menghasilkan 34.000 galon bahan bakar sintetis per tahun. Ini diharapkan Porsche akan menggunakan bahan bakar sintetis dalam model mesin pembakarannya sendiri, termasuk mobil klasik mereka.

Pembalap reli legendaris Walter Rohrl berkomentar, "Adalah harapan besar saya bahwa di masa depan saya akan dapat mengendarai mobil tua tanpa hati nurani yang buruk karena saya menjalankannya dengan eFuels. Mengisi bahan bakar mobil berusia 50 tahun dengan eFuels - itu keberlanjutan murni."

Sementara mobil listrik terus tumbuh dalam popularitas, sebagian besar kendaraan di jalan menggunakan bahan bakar gas. Pengenalan bahan bakar sintetis akan secara drastis mengurangi emisi CO2 dan memungkinkan para penggemar untuk terus mengendarai mobil klasik mereka, tanpa menggunakan konversi listrik penuh.

Michael Steiner, selaku Anggota Dewan Porsche di bidang Pengembangan mencatat, "Jumlah besar kendaraan di jalan dunia - sekitar 1,3 miliar menurut angka terbaru - berarti transisi ke mobilitas listrik tidak terjadi cukup cepat untuk mencapai tujuan yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris. Selain itu, berbagai wilayah di dunia mengadopsi mobilitas listrik pada kecepatan yang berbeda-beda, yang berarti kendaraan dengan mesin pembakaran akan tetap beroperasi di jalan selama beberapa dekade mendatang."

  • 0
  • Share
EKOSejak tahun 2012, Eko bekerja sebagai jurnalis di media remaja. Karena menggemari otomotif, Eko dipercaya untuk mengisi rubrik otomotif di media remaja tersebut. Dan hal itu berlanjut saat ia bekerja di media otomotif lain, sampai ia sekarang bergabung di Otoloka.id
Jika Anda menyukai situs Otoloka, jangan lupa ke Menu Browser dan Klik “Akses Cepat” ya. Akses kami lebih nyaman dan mudah!