• Home>
  • Berita>
  • Catat, Relaksasi Pajak Mobil Baru Berlaku Mulai Maret 2021
  • Konten
  • Kendaraan Terkait
  • Rekomendasi
  • Komentar

Catat, Relaksasi Pajak Mobil Baru Berlaku Mulai Maret 2021

Dilihat 1725
Ismet
12 Feb 2021, 08:32
    • twitter
    • facebook
    • whatsapp
    • ins
  • Suka 1

Otoloka.id - Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya usulan relaksasi pajak mobil baru siap direalisasikan. Aturan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) tersebut akan diberlakukan mulai Maret 2021.

“Relaksasi PPnBM bertujuan untuk meningkatkan purchasing power dari masyarakat dan memberikan jumpstart pada perekonomian," ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Kamis (11/2).

Lebih lanjut Agus mengungkapkan dalam siaran pers resmi yang diterima redaksi mengatakan bahwa negara-negara lain di dunia juga memberikan stimulus khusus untuk industri otomotif selama pandemi. 

"Misalnya, pengurangan pajak penjualan sebesar 100% untuk CKD (mobil yang dirakit di dalam negeri) dan potongan hingga 50% untuk CBU (mobil yang dirakit di negara asalnya) yang dilakukan oleh Malaysia," jelasnya.

Baca juga: Perjalanan Suzuki Jimny, Kisah Jip Kecil yang Melegenda

Selain itu, terdapat kebijakan subsidi untuk kendaraan mobil listrik yang dilakukan oleh China, Jerman, dan Perancis yang sudah diimplementasikan pada tahun 2020.

Kementerian Perindustrian mengusulkan relaksasi PPnBM perlu dilakukan selama tahun 2021, dengan skenario PPnBM 0% (Maret-Mei), PPnBM 50% (Juni-Agustus), dan 25% (September-November).

"Upaya ini tentu dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi saat ini, sehingga relaksasi dilakukan secara bertahap," ujar Menperin.

Relaksasi Pajak Mobil Baru Diharapkan Dorong Penjualan

Dengan pemberlakuan relaksasi PPnBM secara bertahap, diperhitungkan dapat terjadi peningkatan produksi yang akan mencapai 81.752 unit. Diperkirakan, dengan relaksasi ini, penambahan output industri otomotif akan menyumbang pemasukan negara sebesar Rp1,4 triliun.

“Kebijakan tersebut juga akan berpengaruh pada pendapatan negara yang diproyeksi terjadi surplus penerimaan sebesar Rp1,62 triliun,” imbuhnya.

Menperin optimistis, pulihnya produksi dan penjualan industri otomotif bakal membawa dampak yang luas bagi sektor industri lainnya. “Industri pendukung otomotif sendiri menyumbang lebih dari 1,5 juta orang dan kontribusi PDB sebesar Rp700 triliun," ungkapnya.

Baca juga: Berkenalan Dengan New Honda HR-V, Crossover yang Laris di Indonesia

Agus menambahkan, dalam menjalankan bisnisnya, industri otomotif berkaitan dengan industri lainnya (industri pendukung), dengan kontribusi industri bahan baku sekitar 59% dalam industri otomotif.

Lebih dari 1,5 juta orang bekerja di industri otomotif yang terdiri dari lima sektor, yaitu pelaku industri tier II dan tier III (terdiri dari 1000 perusahaan dengan 210.000 pekerja), pelaku industri tier I (terdiri dari 550 perusahaan dengan 220.000 pekerja), perakitan (22 perusahaan dan dengan 75.000 pekerja), dealer dan bengkel resmi (14.000 perusahaan dengan 400.000 pekerja), serta dealer dan bengkel tidak resmi (42.000 perusahaan dengan 595.000 pekerja).

  • Suka 1
  • Laporkan
    • twitter
    • facebook
    • whatsapp
    • ins
Jika Anda menyukai situs Otoloka, jangan lupa ke Menu Browser dan Klik “Akses Cepat” ya. Akses kami lebih nyaman dan mudah!
Kendaraan Terkait
  • Honda Brio
    Honda Brio
    Honda Brio
    Angsuran mulai dari:Rp 2,74 Jt/Bln
Rekomendasi
Komentar
Kirimkan

    Kendaraan Terbaru

    • Mobil
    • Motor
    Berita Terpopuler
    kredit
    Kalkulator Kredit
    *Tipe
    Mobil Baru
    Mobil Bekas
    *Harga Kendaraan
    *Jumlah Deposit
    *Suku Bunga(%)
    *Masa Cicilan
    Pilih
    • 1 Tahun
    • 2 Tahun
    • 3 Tahun
    • 4 Tahun
    • 5 Tahun
    • 6 Tahun
    Tips:
      Selanjutnya
      kredit
      Kalkulator Asuransi
      *Kode Plat Nomor Kendaraan
      Pilih
      *Jaminan Pokok
      Comprehensive
      Total Loss Only
      *Tahun Kendaraan
      Pilih
        *Nilai Pasar
        Jaminan Perluasan
        • Angin Topan, Badai, Hujan Es, Banjir, dan atau Tanah Longsor
        • Gempa Bumi, Letusan Gunung Berapi dan Tsunami
        • Pemogokan, Kerusuhan & Huru Hara
        • Terorisme dan Sabotase
        • Tanggung Jawab Hukum Pihak Ketiga
        Tips:
          Selanjutnya