Gaikindo: Dekarbonisasi pada Kendaraan Agak Sulit Jika Dipaksakan

Otoloka.id- Indonesia ketika mendatangi Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim (COP 26) di Glasgow beberapa waktu silam, menjadi salah satu negara yang komit dengan kampanye dekarbonasi dengan target pada 2030 mendatang.

Dekarbonisasi memang menjadi tantangan tersendiri, terutama di bidang industri otomotif yang berhubungan dengan penggunaan kendaraan ramah lingkungan. Indonesia sudah siap dengan hal itu, yang terbukti dari dibuatnya Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), dan pembebasan pajak mobil listrik dan hybrid.

Selain itu, beberapa produsen otomotif di negeri ini juga mulai menghadirkan lini produk mereka yang lebih ramah lingkungan. Contohnya seperti mobil listrik murni, atau mobil hybrid. Sayangnya, mobil dengan powertrain tersebut saat ini masih belum banyak diminati masyarakat Indonesia.

“Untuk dekarbonisasi, agak sulit jika dipaksakan. Itu berdasar dari pengalaman saja ketika memperkenalkan transmisi manual ke otomatis, itu perlu waktu sepuluh tahun dengan segala pro dan kontranya,” ungkap Kukuh Kumara, selaku Sekretaris Umum Gaikindo dalam diskusi bersama Forwot beberapa waktu lalu.

Baca juga: Zurich Insurance Optimis Bakal Tumbuh Seiring Kebangkitan Industri Otomotif Indonesia

Hal yang sama berlaku juga pada kendaraan ramah lingkungan, yaitu dengan sederet pro dan kontra yang pasti ada. Belum lagi, harga mobil ramah lingkungan lebih mahal ketimbang mobil konvensional, makin sulit dijangkau penduduk Indonesia dengan pendapatan per kapita di bawah 4.000 Dollar Amerika.

Beliau yang menjadi narasumber dalam gelaran Ngobrol Virtual Santai bareng Forwot pada 22 Desember lalu juga menambahkan, dekarbonisasi akan bekerja secara alamiah, yang bergantung dari penerimaan masyarakat terhadap teknologi tersebut.

Selain menghadirkan mobil dengan powertrain hybrid dan listrik, ada juga cara lain untuk dekarbonisasi, seperti penggunaan bahan bakar diesel B30 dan bensin yang dicampur etanol atau biasa disebut flex-fuel.

Kedua bahan bakar alternatif tersebut saat ini bisa dibuat di Indonesia, karena bahan bakunya berasal dari sumber daya nabati untuk dijadikan campuran, lalu diaplikasikan pada kendaraan bermesin internal dengan penyesuaian di dalam ruang bakar tentunya.

“Kita juga mampu melakukan penurunan emisi pada mesin konvensional, dan semua bisa berjalan beriringan. Mesin pembakaran internal bisa berjalan, namun secara waktu mereka berupaya menurunkan gas buang,” paparnya. 

  • 0
  • Share
EKOSejak tahun 2012, Eko bekerja sebagai jurnalis di media remaja. Karena menggemari otomotif, Eko dipercaya untuk mengisi rubrik otomotif di media remaja tersebut. Dan hal itu berlanjut saat ia bekerja di media otomotif lain, sampai ia sekarang bergabung di Otoloka.id
Jika Anda menyukai situs Otoloka, jangan lupa ke Menu Browser dan Klik “Akses Cepat” ya. Akses kami lebih nyaman dan mudah!