• Home>
  • Review>
  • Mengenal Apa itu Kendaraan Hybrid dan Apa Saja Jenisnya
  • Konten
  • Kendaraan Terkait
  • Rekomendasi
  • Komentar

Mengenal Apa itu Kendaraan Hybrid dan Apa Saja Jenisnya

Dilihat 4886
EKO
21 Okt 2021, 09:34
    • twitter
    • facebook
    • whatsapp
    • ins
  • Suka 4

skema mobil hybrid

Otoloka.id- Dalam perjalanannya, mesin pada kendaraan mengalami banyak pengembangan. Berbagai teknologi diterapkan pada sebuah mesin dengan tujuan, menghasilkan tenaga yang optimal dan efisiensi bahan bakar.

Belum lagi, peraturan pemerintah di tiap negara yang makin ketat terhadap emisi yang dikeluarkan oleh kendaraan, membuat produsen kendaraan harus selalu berinovasi menghasilkan teknologi mesin yang lebih ramah lingkungan.

Salah satu temuan yang belum lama ini hadir adalah kendaraan dengan teknologi hybrid. Jadi, kendaraan yang berteknologi hybrid menggunakan dua macam sumber tenaga sebagai penggerak rodanya.

Yang paling umum pada kendaraan bermesin hybrid adalah mengawinkan antara mesin konvensional dengan paket baterai dan motor listrik, yang nantinya akan menghasilkan tenaga yang diteruskan pada penggerak roda.

Kendaraan bermesin hybrid mempunyai keunggulan dalam efisiensi bahan bakar, karena membagi kerja berat mesin konvensional kepada motor listrik dan baterai untuk berakselerasi.

Tak hanya itu, tenaga listrik pada kendaraan hybrid juga punya peran untuk menghasilkan listrik yang disalurkan pada bagian dan instrumen kendaraan. Contohnya seperti lampu, panel indikator, pendingin udara, dan sebagainya.

Bagian paling penting adalah kendaraan hybrid punya keunggulan dapat membantu mengurangi produksi emisi gas karbon yang tentu saja membuat lingkungan semakin rusak.

Bisa dibilang, kalau kehadiran kendaraan hybrid merupakan perkenalan untuk konsumen dalam menggunakan kendaraan elektrik.

Saat ini, ada tiga jenis pengaplikasian teknologi hybrid pada kendaraan yang paling populer, yaitu parelel hybrid, full hybrid, dan plug-in hybrid.

Baca juga: All New Mitsubishi Outlander PHEV Segera Lakoni Debut Global

toyota camry hybrid

1. Paralel hybrid 

Kendaraan yang mengadopsi jenis paralel hybrid menggunakan mesin bakar konvensional yang disandingkan dengan motor listrik bertenaga baterai, di mana keduanya bisa bekerja bersamaan atau sendiri-sendiri. 

Umumnya, baterai dan motor listrik akan bekerja menggerakkan roda saat mobil berjalan di kecepatan rendah atau di dalam kota. Sementara jika dibutuhkan akselerasi tambahan maka mesin bensin akan menyala dan membantu menggerakkan roda juga. 

Kendaraan dengan jenis hybrid ini tentu dapat melaju dengan hanya menggunakan daya listrik saja, namun tidak dapat menjelajah jauh seperti kendaraan listrik murni yang punya kapasitas baterai lebih besar.

Selain untuk membantu kinerja mesin konvensional, energi listrik dari baterai kendaraan paralel hybrid juga berfungsi untuk bekerja pada bagian lain, seperti lampu-lampu, pendingin udara, dan perangkat hiburan.

Jika daya baterai pada kendaraan hybrid ini habis, maka laju kendaraan akan diambil alih oleh mesin konvensional. Selain bekerja untuk menjalankan kendaraan, mesin tersebut juga berperan sebagai alternator atau istilah gampangnya sebagai genset untuk mengisi kembali daya listrik yang akan disimpan oleh baterai.

Sistem pengereman regeneratif yang biasanya jadi fitur bawaan juga berfungsi untuk mengisi daya listrik saat kendaraan sedang mengerem atau sedang deselerasi.

Di Indonesia, sudah banyak model kendaraan berteknologi paralel hybrid, pionirnya adalah Toyota seperti Toyota Camry, Toyota Altis, Toyota Corolla Cross dan Toyota C-HR.

Baca juga: Studi Inggris, Pemilik Kendaraan Hybrid Menjelajah Lebih Jauh

nissan kicks e-power

2. Full hybrid (series) 

Kendaraan hybrid jenis ini juga sama-sama menggunakan dua sumber tenaga yang terdapat pada paralel hybrid. Cuma bedanya, kalau pada series hybrid kedua sumber tenaga tersebut tidak bisa digunakan secara terpisah.

Peran penggerak roda di hybrid jenis ini adalah tugas utama dari motor listrik, tapi untuk mengisi dayanya masih menggunakan mesin konvensional. Jadi mesinnya digunakan sebagai generator untuk mengisi baterai.  

Meski masih menggunakan mesin konvensional namun konsumsi bahan bakarnya bisa sangat irit karena fungsi mesin yang hanya menjadi generator saja tadi. Mesinnya sama sekali tidak bisa memutar roda kendaraan.   

Selain itu kendaraan full hybrid ini juga dibekali dengan pengereman regeneratif yang menghasilkan energi listrik dan diteruskan pada baterai.

Mobil yang menggunakan jenis hybrid ini adalah Nissan Note e-Power dan juga Kicks e-Power.

Baca juga: Tiga Mobil Mungil ini Mendapat Skor Tinggi oleh Green NCAP

mitsubishi outlander phev

3. Plug-in hybrid (PHEV)

Kendaraan plug-in hybrid biasanya disebut juga sebagai (PHEV) yang punya sistem lebih rumit, namun punya jelajah yang lebih jauh dibanding kendaraan hybrid lainnya.

Kelebihan lain dari kendaraan plug-in hybrid adalah dua sumber tenaganya dapat diisi ulang secara masing-masing.

Ketika bahan bakar di mesin konvensional habis, dapat diisi ulang dengan mendatangi SPBU, dan apabila daya listrik kendaraan tersebut habis, tinggal cari stasiun pengisian listrik atau mengisi daya di rumah.

Jadi, memang kendaraan plug-in hybrid merupakan perpaduan antara kendaraan bermesin konvensional dengan kendaraan elektrik yang dijadikan satu.

Kelebihan ini tidak ditemukan pada kendaraan paralel atau full hybrid, karena kendaraan tersebut hanya bergantung pada pengisian daya yang berasal dari mesin konvensional.

Kendaraan plug-in hybrid biasanya punya kapasitas baterai yang lebih besar dibanding jenis kendaraan hybrid lain, dan itu berakibat pada bobot kendaraan yang bertambah berat.

Selain lebih berat, harga yang ditawarkan juga menjadi lebih mahal. Salah satu kendaraan berteknologi PHEV adalah Mitsubishi Outlander yang punya harga Rp890 jutaan, sementara versi mesin bensinnya hanya seharga Rp380 jutaan saja di Eropa.

Ada juga Toyota Prius PHEV yang juga dijual di Indonesia, tapi harganya juga di angka Rp800 jutaan. 

Baca juga: Hyundai Mulai Kembangkan dan Produksi Chip Secara Internal

4. Mild hybrid 

Paling terakhir adalah jenis mild hybrid, di mana bisa dibilang ini adalah sistem hybrid yang tetap membutuhkan mesin konvensional secara penuh. Pada mild hybrid ini tidak ada motor listrik, jadi untuk memutar roda masih menggunakan mesin bensin. 

Lalu kenapa masih disebut hybrid, karena sistem baterainya hanya digunakan sebagai penambah akselerasi awal saja. Selain itu juga pada jenis mild hybrid ini memiliki ISG (Integrated Starter Generator) yang menggantikan fungsi altenator pada mesin bensin. 

Fungsi ISG itu juga bisa mematikan dan menyalakan mesin saat kondisi macet atau berhenti di lampu merah. Mungkin Anda tahu fitur Auto Start/Stop yang biasanya ada di mobil premium, nah fungsinya lebih seperti itu. 

Penghematan yang dilakukan oleh sistem mild hybrid ini tidak terlalu signifikan malah cenderung mengganggu ketika berada di kemacetan Jakarta. Oh iya, baterainya juga bisa diisi ulang menggunakan pengereman regeneratif. 

Jenis sistem ini pernah digunakan oleh Honda CR-Z dan juga Mercedes-Benz EQ Boost. Oh iya, Suzuki juga punya yaitu Ertiga Diesel Smart Hybrid yang sistemnya mild hybrid ini.  

 

  • Suka 4
  • Laporkan
    • twitter
    • facebook
    • whatsapp
    • ins
Jika Anda menyukai situs Otoloka, jangan lupa ke Menu Browser dan Klik “Akses Cepat” ya. Akses kami lebih nyaman dan mudah!
Kendaraan Terkait
Rekomendasi
    Komentar
    Kirimkan

      Kendaraan Terbaru

      • Mobil
      • Motor
      Berita Terpopuler
      kredit
      Kalkulator Kredit
      *Tipe
      Mobil Baru
      Mobil Bekas
      *Harga Kendaraan
      *Jumlah Deposit
      *Suku Bunga(%)
      *Masa Cicilan
      Pilih
      • 1 Tahun
      • 2 Tahun
      • 3 Tahun
      • 4 Tahun
      • 5 Tahun
      • 6 Tahun
      Tips:
        Selanjutnya
        kredit
        Kalkulator Asuransi
        *Kode Plat Nomor Kendaraan
        Pilih
        *Jaminan Pokok
        Comprehensive
        Total Loss Only
        *Tahun Kendaraan
        Pilih
          *Nilai Pasar
          Jaminan Perluasan
          • Angin Topan, Badai, Hujan Es, Banjir, dan atau Tanah Longsor
          • Gempa Bumi, Letusan Gunung Berapi dan Tsunami
          • Pemogokan, Kerusuhan & Huru Hara
          • Terorisme dan Sabotase
          • Tanggung Jawab Hukum Pihak Ketiga
          Tips:
            Selanjutnya